Puisi , Pantun dan Teka- Teki Suku Bugis

December082012


Puisi, Pantun dan Teka-
teki suku Bugis Oleh M aan Mansyur
KEBESARAN epos-mitos La
Galigo telah membunuh
banyak genre sastra klasik
Bugis. La Galigo yang diduga
sebagai karya sastra terpanjang dalam sejarah
sastra dunia itu terlalu banyak
menyedot perhatian kritikus,
peminat dan peneliti seni.
Mereka, para peminat dan
peneliti seni itu, lupa bahwa begitu banyak karya sastra
Bugis lain yang menarik
untuk diperbincangkan. BANYAKNYA ragam genre
sastra Bugis bisa dibaca dalam
satu bab The Bugis, buku hasil
penelitian Christian Pelras
selama puluhan tahun di tanah
Bugis. Selain jumlahnya yang diperkirakan sampai 2.500.000
karya, kualitas karya-karya
itu juga sangat layak untuk
jadi bahan kajian. Sebuah
tulisan Roger Tol di jurnal
KITLV edisi 148-1 (1992: 82-102) memaksa tulisan ini lahir.
Roger Tol membahas sebuah
genre puisi Bugis, élong, dalam
tulisan tersebut. Tulisan ini
akan membicarakan ulang
satu jenis élong yang sangat unik yakni élong maliung
bettuanna, puisi teka-teki
yang harus menggunakan
rumus tertentu agar bertemu
jawabannya. Menurut Salim
(1990:3-5), sedikitnya ada 14 jenis élong yang bisa
dibedakan menurut isi
(content), peristiwa (occasion)
di mana lagu itu nyanyikan
dan terakhir sifat-sifat
formalnya (formal peculiarities). Ada élong yang secara khusus
membicarakan perihal
keluarga, agama dan hiburan
semata. Sejumlah lainnya
dipentaskan pada peristiwa-
persitiwa khusus, semisal élong madduta (lagu
melamar) dan élong osong
(lagu perang). Ada juga élong,
seperti puisi klasik Jepang,
haiku, yang terdiri dari
aturan-aturan baris dan jumlah silabel. Lainnya,
terdapat élong yang
rangkaian huruf awalnya
membentuk nama-nama hari.
Keunikan-keunikan itulah
yang membuat élong bisa menjadi media untuk
melakukan permainan bahasa
seperti yang juga akan
dibahas dalam tulisan ini.
Macam-macam élong bisa
ditemukan dalam beberapa buku, beberapa di antaranya
adalah Salim (1969-71, 1990),
Sikki (1978:277-323), dan
paling komprehensif adalah
koleksi élong yang
dikumpulkan oleh pionir pengkaji Bugis dan Makassar,
Matthes (1872a:370-409, 1883) . Tak berbeda dengan pantun,
élong sekaligus bisa menjadi
sastra lisan dan tulisan. Nama
élong (secara harafiah berarti
‘lagu’) sendiri menunjukkan
bahwa puisi ini awalnya adalah sastra lisan. Dalam
sejarahnya kadang-kadang
élong memang
dipertunjukkan atau
dinyanyikan dengan iringan
instrumen seperti biolin dan suling, meskipun juga sering
tanpa iringan apa-apa (Sikki,
1978:xi). Dulu, élong bahkan
sering dijadikan sebagai salah
satu jenis lomba—sambil
berpesta pora minum tuak dan makan melimpah. Sebelum akhirnya hilang dari
kehidupan keseharian orang
Bugis, élong masih digunakan
dalam prosesi melamar, di
mana dua kelompok, masing-
masing dari pihak laki dan perempuan, saling melempar
bait-bait élong hingga
hadirnya kesepakatan
pernikahan. Semakin lihai
kelompok pelamar
menggubah bait-bait élong, semakin besar peluang
lamarannya diterima. Hal
seperti itu tak lagi bisa
ditemukan di daerah Bugis
sekarang ini. Hampir selalu,
status dan harta menjadi faktor paling menentukan
diterima atau tidaknya sebuah
lamaran. Di daerah Bone,
Pinrang dan Sidrap, misalnya,
orang tua seorang gadis bisa
saja meminta uang ratusan juta sebagai syarat
pernikahan. Menyembunyikan Maksud di
Balik Tiga Lapis Sarung
NAMPAKNYA seperti
dikatakan oleh dua baris akhir
sebuah soneta Shakespeare, so
long as men can breathe or eyes can see,/so long lives
this, and this gives lives to
thee, orang Bugis sejak lama
telah menyadari signifikansi
puisi. Misalnya saja dengan
membuat aturan-aturan tertentu untuk memahami
sebuah bait élong maliung
bettuanna. Aturan-aturan
khusus itulah yang membuat
genre puisi ini menjadi sangat
unik dan menarik. Tidak saja dalam élong maliung
bettuanna, tetapi begitu
banyak karya-karya penting,
pendek maupun panjang,
ditulis menggunakan puisi. Tak banyak peminat dan
sarjana sastra yang membahas
jenis puisi élong maliung
bettuanna mungkin
dikarenakan dua faktor
penting yang sama-sama susah dipahami; matra dan
archaic vocubulary yang
digunakan. Secara harafiah,
élong maliung bettuanna
berarti ‘lagu yang dalam
maknanya’ (maliung berarti ‘dalam’ dan bettuanna berarti
‘artinya’ atau ‘maknanya’).
Dengan kata lain, élong ini
adalah puisi dengan makna
tersembunyi. Sebagaimana
jenis élong lain, élong maliung bettuanna pun menggunakan
simbol, matra dan bentuk
khas. Tetapi jenis élong ini
memiliki satu perbedaan
yakni penggunaan crypto-
language yang sangat khas yang disebut Basa to Bakke’. Basa to Bakke’ secara harafiah
berarti ‘bahasa orang-orang
Bakke’’. Sebenarnya
penamaan ini merujuk kepada
seseorang bernama Datu
Bakke’, Pangeran dari Bakke’, yang dikenang karena
kecerdasan dan
keintelektualannya. Nama
orang ini banyak disebut-
sebut dalam literatur sejarah
Bugis, utamanya Soppeng. Bakke’ sendiri adalah nama
sebuah daerah di Soppeng,
Sulawesi Selatan. Bisa terjadi
kesalahpengertian di sini,
sebab seolah-olah ada bahasa
lain selain bahasa Bugis yang digunakan dalam puisi Bugis
ini. Sehingga sesungguhnya
Basa to Bakke lebih cocok
diartikan sebagai permainan
bahasa Bakke’. Basa to Bakke’ menjadi ciri
khas dalam puisi teka-teki
Bugis atau élong maliung
bettuanna ini. Sangat
berlainan dengan pantun teka-
teki yang hanya menggunakan simbol untuk
menyembunyikan jawaban,
teka-teki élong maliung
bettuanna tersembunyi di
balik tiga lapis sarung. Untuk
tiba pada makna sesungguhnya yang ingin
disampaikan oleh penulisnya,
tiga lapis sarung itu harus
disingkap satu per satu. Kalau tuan bawa keladi
Bawakan juga si pucuk
rebung
Kalau tuan bijak bestari
Binatang apa tanduk di
hidung ? Bandingkan pantun di atas
dengan sebuah teka-teki a la
puisi Bugis yang dikutip dari
Tol dkk (1992:85) berikut ini: Kégana mumaberrekkeng,
buaja bulu’édé,
lompu’ walennaé? (Mana lebih kau suka,
buaya gunung,
atau lumpur sungai?) Tentu tak susah menemukan
jawaban teka-teki pantun di
atas. Pantun itu adalah teka-
teki Budi di buku Pelajaran
Bahasa Indonesia untuk murid
Kelas III Sekolah Dasar zaman orde baru. Tetapi bagaimana
menemukan ‘jawaban’ teka-
teki Bugis di atas? Sebenarnya
puisi itu ingin menyampaikan
makna: ‘mana lebih kau suka,
perempuan cerdas atau perempuan cantik?’. Bagi yang paham aksara
Bugis, tentu masih ingat
bahwa aksara Bugis memiliki
beberapa keunikan
dibandingkan, misalnya,
dengan aksara Latin. Aksara Bugis, sebagaimana
kebanyakan aksara di Asia,
memiliki kecacatan.
Kekurangan yang sekaligus
bisa jadi kelebihan itu di
antaranya adalah tidak adanya huruf mati (final velar
nasals), glottal stop, dan
konsonan rangkap
(geminated consonants).
Aksara Bugis, nyaris sama
dengan aksara Jepang, setiap hurufnya adalah satu suku
kata (syllabel). Satu silabel
dalam aksara Bugis bisa dibaca
dengan berbagai cara.
Contohnya, huruf untuk
silabel ‘pa’ bisa saja dibaca / pa/, /ppa/, /pang/, /ppang/, /
pa’/, atau /ppa’/. Keunikan
aksara Bugis inilah yang
dieksplorasi oleh permainan
Basa to Bakke’ dalam élong
maliung bettuanna. Dalam satu élong yang
disebutkan tadi, sarung
pertama yang harus disingkap
untuk menemukan
jawabannya telah dilakukan
dengan memperlihatkan arti puisi itu. Langkah pertama itu
adalah mengidentifikasi
pernyataan (frase). Ada dua
frase dalam puisi itu yang
harus diperhatikan, buaja
bulue’édé dan lompu’ walennaé. Buaja bulu’édé
berarti ‘buaya gunung’ dan
lompu’ walennaé berarti
‘lumpur sungai’. Setelah mengidentifikasi
pernyataan, langkah kedua
adalah menemukan apa
rujukan dari frase yang telah
ditemukan. Dalam
penyingkapan sarung kedua ini, memang sangat erat
kaitannya dengan
pengetahuan dan alam pikiran
budaya Bugis. Buaja bulu’édé
(buaya gunung) dalam
budaya Bugis merujuk kepada macang (macan) dan lompu’
walannaé (lumpur sungai)
menunjuk kepada
kessi’ (pasir). Jika hanya sampai di sini, puisi
itu akan berarti ‘mana yang
lebih kau suka, macan atau
pasir?’ Tentulah ini akan
menjadi sebuah pernyataan
yang tidak logis. Tetapi memang bukanlah itu yang
sesungguhnya ingin
disampaikan puisi tersebut.
Masih ada satu lapis sarung
yang harus disingkapkan. Di
tahapan inilah permainan bahasa tadi digunakan. Dalam
tulisan aksara Bugis, kata
macang (macan) sama dengan
macca’ (cerdas) dan
kessi’ (pasir) sama dengan
kessing (elok atau cantik). Masing-masing ditulis /ma-ca/
(ingat, tak ada final velar
nasals dan geminated
consonant dalam aksara Bugis)
dan /ke-si/ (ingat juga tak
ada glottal stop). Akhirnya makna puisi itu
menjadi ‘mana yang lebih kau
suka, (perempuan) cerdas atau
(perempuan) cantik?’. Perhatikan satu contoh lagi
berikut ini: Gellang riwata’ majjékko,
Anré-anréna to Menre’é,
aténa unnyié. (Tembaga melengkung di
ujung,
makanan orang Mandar,
hati kunyit.) Puisi teka-teki yang berarti
‘aku mencintaimu’ ini bisa
disingkap jawabannya
dengan cara yang sama.
Gellang riwata’ majjékko
merujuk kepada méng (kail), anré-anréna to Menre’é
merujuk kepada loka (pisang)
—konon Orang Bugis dulu
menganggap makanan pokok
orang Mandar adalah pisang,
dan aténa unnyié merujuk kepada ridi (kuning). Jika tiga
kata itu dituliskan dalam
aksara Bugis akan menjadi /
me-lo-ka-ri-di/. Rangkaian
huruf ini bisa juga dibaca
mélo’ ka ridi yang artinya ‘aku mencintaimu’. Tiga lapis sarung itu bisa
diuraikan lebih rinci seperti
berikut; sarung pertama,
mengenali frase yang
menyimpan kiasan atau
sampiran dan bunyi. Dalam puisi di atas, setiap barisnya
menyimpan masing-masing
satu frase untuk mengenali
sampiran itu; gellang riwata
majjékko, anré-anréna to
Menre’é, dan aténa unnyié. Sampiran dari frase itu, secara
berurutan masing-masing;
méng (kail), loka (pisang), dan
ridi (kuning). Lapis kedua
adalah bunyi méng, loka, dan
ridi. Bunyi tiga kata itu membawa kita ke lapis
sarung selanjutnya untuk
menemukan makna (isi),
bunyi meng dalam aksara
Bugis ditulis /me/, bunyi loka
ditulis /lo-ka/, dan bunyi ridi ditulis /ri-di/. Untuk
menemukan makna élong
semua bunyi itu dirangkai
menjadi /me-lo-ka-ri-di/.
Rangkaian bunyi itu jika
dibaca menjadi mélo’ka ridi yang maknanya ‘aku
mencintaimu’. Jika dalam pantun baris
pertama-kedua adalah
sampiran dan baris ketiga-
keempat adalah isi, maka
dalam élong maliung
bettuanna bunyi (lapis kedua) yang menjadi sampiran
sekaligus petunjuk untuk
masuk ke lapis selanjutnya
yaitu isi. Jika disederhanakan, rumus
tiga lapis sarung untuk
menyingkap makna
élongmaliung bettuanna di
atas bisa menjadi: (1) frase, (2)
bunyi, dan (3) makna. Lihat contoh berikut ini: Inungeng mapekke’-pekke’
balinna ase’édé,
bali ulu balé. (Minuman pekat,
kebalikan atas,
kebalikan kepala ikan.) Setelah melalui proses
penyingkapan makna, puisi ini
berarti ’saya tak suka
padamu’. Makna itu
ditemukan dari rangkaian
kata téng, awa, dan ikko yang jika dituliskan dengan
aksara Bugis menjadi /te-a-
wa-(r)i-ko/, ‘aku tidak mau
atau benci padamu’. Frase
élong itu adalah inungeng
mapekke-pekke, balinna ase’édé, dan bali ulu balé.
Bunyi yang dihasilkan frase
itu adalah téng (teh), awa
(bawah), dan ikko (ekor).
Bunyi ini jika dituliskan dalam
aksara Bugis akan menjadi / te-a-wa-(r)i-ko/. Rangkaian
aksara Bugis itu bisa juga
terbaca téawa (r)iko, ‘aku tak
suka padamu’. Vopel (1967:3) mengatakan
bahwa kemungkinan puisilah
bahasa paling rumit di dunia
ini. Disebut paling rumit
karena puisi menghendaki
kepadatan (compactness) dalam pengungkapan.
Kepadatan ini tidak hanya
tercermin lewat kata-kata
yang memiliki bobot makna
yang berdaya jangkau lebih
luas ketimbang bahasa sehari- hari. Kepadatan juga berperan
sebagai pembangun dimensi
lapis kedua seperti
membangun kesan atau efek
imagery, tatanan ritmis di tiap
baris, membentuk nada suara sebagai cermin sikap penulis
semisal sinis, ironis, atau
hiperbolis terhadap pokok
persoalan yang diangkat. Dan
yang lebih penting juga adalah
membangun dimensi lain yang hadir tanpa terlihat karena
berada di balik makna literal
dan atau di balik bentuk yang
dipilih. Tuntutan-tuntutan
semacam itu tentu lebih
longgar pada genre lain seperti prosa (cerita pendek dan
novel). Selain puitis, élong maliung
bettuanna juga memang
kelihatan rumit dan berlapis-
lapis. Namun jika menemukan
rumusnya, puisi ini tidak akan
serumit yang kita duga. Sungguh, alangkah pintar
orang-orang Bugis (dulu)
menyembunyikan
maksudnya di balik berlapis-
lapis sarung. Permainan Bahasa, Kunci
Jawaban
SEPERTI telah kita lihat, élong
maliung bettuanna
mengandung dua atau tiga
pernyataan teka-teki. Jika kita telah menemukan
rujukan yang ditunjuk oleh
frase-frase itu, kita akan
segera menemukan makna
puisi—tentu saja jika paham
bahasa dan aksara Bugis. Permainan basa to bakke’
memang menjadi kunci
jawaban dari teka-teki dalam
sebuah élong maliung
bettuanna. Permainan bahasa
inilah yang paling menarik dari jenis puisi ini, hal yang
kemungkinan besar tak akan
ditemui dalam puisi lain. Sesungguhnya, dalam élong
maliung bettuanna ada pola-
pola umum permainan bahasa
orang Bakke yang paling
sering digunakan. Basa to
Bakke biasanya menggunakan tiga macam
topik dalam frasenya; 1) yang
berhubungan dengan nama
daerah atau tempat
(geographical), 2) tentang
tumbuh-tumbuhan (botanical) , dan 3) tentang binatang
(zoological). Memang ada
beberapa pengecualian, tetapi
ketiga topik itulah yang
paling sering digunakan. TERNYATA bahasa Bugis bisa
menjadi permainan yang
menarik. Keunikan bahasa
seperti itulah yang membuat
puisi Bugis menjadi berbeda
dibandingkan jenis puisi lainnya. Meski élong maliung
bettuanna tak lagi pernah
dipentaskan atau dituliskan,
meliriknya kembali bisa
menjadi alternatif. Mengadopsi puisi Bugis ini bisa
menjadi jawaban atas
kejenuhan banyak kritikus
sastra yang menganggap puisi
modern Indonesia
terperangkap oleh segelintir nama-nama besar, seperti
Sapardi Djoko Damono,
Suardji Calzum Bachri,
Goenawan Mohamad dan
Afrizal Malna. Kekuatan élong
maliung bettuanna salah satunya adalah ketercapaian
dan keseimbangan dua
kekuatan, bentuk dan isi—hal
yang semakin susah
ditemukan oleh penyair-
penyair Indonesia kontemporer. Tak banyak
jenis puisi yang mampu
mengawinkan bentuk dan isi
seperti yang diperlihatkan
oleh élong maliung bettuanna. Selain aturan bunyi (fonologi)
dan makna (semantik) yang
telah dijelaskan di atas,
sesungguhnya élong maliung
bettuanna juga menarik
untuk dilihat dari segi matra. Élong maliung bettuanna ini
memiliki aturan matra, terdiri
dari tiga baris dan tiap
barisnya biasanya terdiri dari
delapan, tujuh atau enam
suku kata. Puisi-puisi Bugis seperti dijelaskan dalam Tol
(1992:83) memiliki tiga jenis
matra; pentasyllabic metre
(seperti yang diperlihatkan
dalam La Galigo), octosyllabic
metre (seperti dalam teks puisi-puisi naratif Bugis) dan
élong metre. Meskipun memang rumit
memahami genre ini, namun
tetap terbuka banyak pintu
untuk masuk dan menikmati
élong maliung bettuanna,
salah satunya melalui permainan bahasa. Permainan
bahasa seperti Basa to Bakke’
yang telah dijelaskan dalam
tulisan ini mungkin pula akan
membuat, khususnya orang-
orang Bugis, belajar dan mencintai kembali bahasa dan
aksara Bugis. Selain tak
berminat pada sastra klasik,
orang-orang juga mulai tak
meminati bahasa daerah.[]
Sumber >>>>>> http:// www.ininnawa.org/
article25.html Referensi:
1. Fachruddin Ambo Enre,
1983, Ritumpanna
Weelenrennge, telaah filologis
sebuah Episode Bugis klasik,
Jakarta: Universitas Indonesia. 2. Kennedy, J.X, 1991.
Literaure: an Introduction to
Fiction, Poetry and Drama,
(Fifth Edition). New York:
harper Collins Publisher.
3. Mattulada, 1985, Latoa; satu lukisan analitis terhadap
antropologi politik orang
Bugis, Yogyakarta: Universitas
Gajah Mada
4. Muhammad Salim, 1969-71,
Transliterasi dan Terjemahan elong Ugi (kajian naskah
Bugis), Ujung pandang:
Departemen P dan K, Bagian
Proyek Penelitian dan
Pengkajian Kebudayaan
Sulawesi Selatan. 5. Muhammad Sikki, dkk,
1978, Terjemahan beberapa
naskah lontara Bugis, Ujung
Pandang: Balai Penelitian
Bahasa.
6. Pelras, Christian, 2006, Manusia Bugis, Jakarta: Nalar.
7. Perrine, Laurence, 1974,
Literatre: Structure, Sound and
sense. (Second Edition). New
York: Harcourt Brace
Javanovisch Inc. 8. Rahman Daeng Palallo, 1968,
‘Bahasa Bugis; Dari hal elong
maliung bettuanna (pantun
jang dalam artinya)’,
Bingkisan I.
9. Tol, Roger, 1992, ‘Fish Food on a Tree Branch; Hidden
Meanings in Bugis Poetry’,
Leiden: Bijdragen tot de Taal-,
land- en Volkenkunde 148 :
82-102. Tulisan lebih lengkap
mengenai ini juga pernah
dimuat di www.puisi.net dan
www.panyingkul.com.

kisah lama

November192012
ThumbnailDan terjadi lagi kisah lama yang terulang kembali Kau terluka lagi dari cinta rumit yang kau jalani Aku ingin kau merasa kamu mengerti aku mengerti kamu Aku ingin kau sadari cintamu bukanlah dia Dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu Karena separuh aku dirimu Ku ada di sini, pahamilah kau tak pernah sendiri Karena aku selalu di dekatmu saat engkau terjatuh Aku ingin kau merasa kamu mengerti aku mengerti kamu Aku ingin kau... [Baca selengkapnya]

GALAU

November172012
ThumbnailIstilah galau sangat ngetren di kalangan remaja khususnya. Nah, ceritanya nih pada suatu hari yang terik saya sedang mengalami salah satu penyakit remaja ini, GALAU. Dan kebetulan lagi login di facebook ternyata saya tak sendirian. Banyak juga teman facebook yang memasang status lagi galau. Dari situ rasa penasaran saya muncul apa sih arti kata galau itu? Dan saya mencoba mencari pengertian galau. Banyak sih yang membahasnya dan akhirnya saya mulai paham. Arti kata galau... [Baca selengkapnya]

sms lucu

November142012
ThumbnailSeorang gadis yang sempurna Tidak mengganggu, Tidak berteriak, Tidak main mata dengan orang lain, Tidak terletak, Tidak menipu, Apa Sebuah Misteri Kecoa takut Tikus, Tikus takut Kucing, Kucing takut Anjing, Anjing takut Manusia, Manusia adalah takut Ibu, Dan Perempuan takut . . . . . . Kecoa! Apa bedanya sekretaris umum dengan sekretaris prbadi Kalau sekretaris berucap selamat pagiii pak/bos..! Kalau sekertaris pribadi berucap bangun-bangun Bos sudah pagi..! Saya punya banyak sms bohong bohongan di handpone tapi sayang gak bisa kirim ke kamu semua saya pilih pilih saya kirim 1(satu)... [Baca selengkapnya]
 
Kembali ke Atas